Minggu, 01 Maret 2020

Mindset Berfikir ERO sebagai landasan hidup bahagia.


       Kembali pada Agenda tiap hari Rabu di kantor KITA Bhineka tungggal ika yakni adalah Kegiatan PLC ( Peace leadership Training) yang dimulai pukul 17:00 WITA tidak lebih tidak kurang , ini adalah pertemuan ketiga setelah di mulainya kegiatan ini, seperti sebelumnya Kak Therry selaku pemantik Tidak pernah mengecewakan, Materi yang di share kepada kami Di keJewantahkan olehnya dengan Apik dan Tidak membosankan.

          pada garis start ada Hakuna Matata yang berada pada posisi pertama dalam agenda materi, berupa pemutaran sebuah cuplikan scene dari film kesukaan kak Therry yakni Lion King, dmna pada scene tersebut di ceritakan tentang Simba yang sedang berada pada titik terendah karena suatu peristiwa buruk telah terjadi berkatnya, oleh Timon dan Pumba, simba di perkenalkan dengan hakuna matata yg merupakan sebuah magic word yang jika di ucapkan, minimal akan mengurangi rasa sedih sepersekian persen yang dialami dirinya, dan itulah yang terjadi pada cuplikan video scene lion king tersebut.

          Tak sampai disitu, setelah menonoton cuplikan scene The lion king, kami di perkenalkan dengan sebuah Rumus, bukan rumus matematika, fisika atau keteurunan dari mereka berdua, akan tetapi ini adalah Rumus ERO Yang Di temukan Oleh Jack Canfield.

E + R = O
E = Event ( Situasi)
R = Respon ( Respon terhadap situasi)
O - Outcame (Hasil dari sebuah peristiwa)

          Meskipun persamaan ini terlihat sederhana, tetapi akan sangat sulit untuk di Lakukan, Di butuhkan sebuah kejuujuran serta sikap Legowo dan membuang kebiasaan umtk selalu menyalahkan orang lain. maka dari itu pada kebanyakan Situasi orang-orang hanya Menggunakan E=O dan menghilangkan R yaitu kesadaran terhadap kesalahan diri sendiri dan akibatnya timbul yang namanya Blame,Complaint,Defend dalam garis besar menggambarkan sikap lebih condong mempertahankan diri dari kesalahan dan melimpahkan semua kesalahan kepada orang lain.

          Dalam menjelaskan mengenai Rumus ini kak Therry merefleksikannya dalan sebuah cerita Seorang Mahasiswa Organisatorik yang Di perhadapkan Pada Situasi dimana ia harus memposisikan dirinya yang memangku sebuah tanggung jawab pada suatu kegiatan kelembagaan dan Peran sebagai Anak Sekaligus kakak dalam sebuah keluarga,

          Singkat cerita Lelaki yang tidak di sebutkan namanya ini adalah seorang yang aktif berorganisasi di kampus, pada suatu ketika ia mempunyai peran penting dalam sebuah kegiatan kelembagaan yakni Inaugurasi dimana ia harus selalu hadir dalam setiap Agenda dalam Acara itu, dan di hari yang sama dengan pelaksanaan kegiatan inaugurasinya, Orang tua dari LElaki ini harus berpergian keluar kota dan menitipkan tanggung jawab pada lelaki ini untuk menajaga Anaknya yang berusia 7 tahun saat berpergian, yang tak lain merupakaan Adik dari Lelaki itu sendiri, Dalam Situasi Ini Lelaki itu mencoba menentukan pilihan Untuk Hadir atau tidak dalam acara Inaugurasi tersebut, dan dengan Kemampuan Analitical Thinking lelaki tersebut  mendapatkan sebuah solusi agar ia tetap bisa hadir dalam acara itu dan tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak dengan meninggalkan adiknya sendiri dirumah, pada akhirnya solusi yang ia dapat adalah dengan menitipkan sang adik pada Pamannya dengan harapan sang paman dapat menjaga Adiknya selama kepergiannya ke acara Inaugurasi tersebut, pamannya mengiyakan tawaran tersebut.
          Atas dasar Trust Intimacy nya kepada paman nya, ia lebih merasa tenang, sampai pada akhirnya kepulangannya dari Acara itu ia menyadari perubahan perilaku yg dialami oleh adiknya yang tak biasa dan berberada semenjak setelah di titipkan kepada pamannya, merasah aneh ia mencoba berbicara kepada adiknya dan mempertanyakan tentang perubahan sikapnnya, tetapi itu tidak mudah, adiknya terus menerus menolak untuk membicarakannya, ia semakin merasa risih akan hal itu dan mencoba mendesak adiknya agar mau berbicara sampai pada akhirnya ia berakhir pada sebuah fakta yang meruntuhkan dinding Trust Intimacy nya kepada Pamannya, yah Adiknya Di perkosa oleh pamannya sendiri selama kepergiannya.

          setelah selesai bercerita, Kak Therry Meminta pendapat Mengenai Refleksi Rumus E+R=O pada Cerita yang ia paparkan, dimulai dengan memberi nilai pada Event (situasi) yang di alami oleh lelaki tersebut, beratnya situasi yang di rasakan tergantung pada sebesar apa nilai yang di berikan, Dari 1 sampoai 10 yang di tawarkan kak therry, semua peserta kompak memberi nilai 10, tapi tak cukup sampai disitu para peserta merasa nilai yang di berikan tak sepadan dengan beratnya situasi yang di alami lelaki dari certita itu, kemudian kak therry lebih memperluas interval angka yakni dari 1 hingga 100, 1 hingga 1000, 1 hingga 10000, kemudian kami sampai kepada angka tertinggi yaitu 100000, 

"kenapa angkanya sebesar itu? tanya kak therry

"yah kareana situasi itu memang sangat berat kak, timpal salah satu peserta 

"Lalu jika situasi nya seberat itu, bagaimana seharusnya kita merespon?"kak therry bertanya kembali

"Lapor Polisi kak, Adiknya Bawa Ke Sikolog, Memberikan Pendampingan Khusus Buat Sang Adik kak, bunuh pelaku, dll" peserta bergantian menjawab

pada akhirnya setelah para peserta menyebutkan hal hal yang harus di lakukan sebagai respon akan situasi itu, dan pada kenyataannya respon yang diberikan tidak cukup besar untuk menghasilkan nilai positif pada hasil outcame.

apa yang salah? 

nah, Rumus Ini sebenarnya Sangat Mirip Dengan filsafat Stoic, tentang bagaimana Merespon Suatu Situasi dengan kontrol Opini diri,

          Epictetus yang merupakan salah satu filsuf STOA pernah berkata :
"bukan hal atau orang yang menggangu kita, tapi opini kitalah  atas hal tersebut."

Pada Cerita Diatas kami Sebagian besar peserta menanggapi hal tersebut dengan marah dan dendam terhadap pelaku, Akan tetapi sebenarnya isu nya bukan pada situasi itu, tapi pada opini kita atas situasi itu,

          filsuf stoa percaya bahwa "Emosi negatif adalah akibat nalar yang sesat", nah ini menarik terkadang kita merasa di adu dengan emosi dan nalaar, tapi filusf stoa mengatakan tidak, karena jika ada emosi negatif berarti ada kesalahan dalam bernalar, bukan di sebabkan oleh situasi, serta kita memiliki kemampuan untuk mengubah opini ini kapan saja, karena opini ini ada dalam otak kita, artinya kita yang bisa mengganti itu bukan orang lain.

dan yang terjadi pada kita dalam menanggapi cerita diatas adalah, ternyta yang salah ada pada diri kita, ketidakbisaan kita menerima situasi yang ada membuat kita larut akan dendam dan sikap menyalahkan diri sendiri, ini yang membuat kita memberikan nilai tinggi pada Event (situasi) ini, 

          kita terlalu sombong berfikir bahwa situasi itu terjadi sepenuhnya karena kesalahan (kehendak) kita, tapi sebenarnya ada kuasa yang lebih besar dibandingkan kehendak kita, yaitu kuasa tuhan, bukan berarti tuhan melakukan kesalahan, tapi percayalah ada hikmah di balik setiap kejadian dan itu lah yang perlu kita sadari dengan cara menerima setiap kehendak tuhan yang berupa situasi tersebut.
dengan cara menerima segala sitausi yang ada kita jauh lebih merasa tenang sehingga membantu kita untuk lebih bijak dalam merespon sesuatu

         Dalam FIlsafat Stoa dikenal "dikotomi Kendali" yaitu bahwa sebagian hal ada di bawah kendali kita, dan sebagian hal lain di luar kendali kita.

jadi smpel nya bagi orang stoa dalam hidup itu segala sesuatu itu tinggal di bagi dua, yang pertama itu di bawah kendali kita, dan itu sedikt sekali hanya fikiran dan opini kita, sisanya cuaca, kekayaan, reputasi, kesehataan itu semua diluar kuasa kita, dan masalahnya semua kebahagiaan kita kita standarkan pada suatu hal yang sebenarnya di luar kendali kita dan hal ini lumrah terjadi, bagi orang Stoa ini absurd karena kita bahagia tergantung sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan, Kapan kita bahagianya?

Mercus Aurelius Pernah Berkata:
"Kamu memiliki kendali Atas Pikiranmu, bukan peristiwa luar, sadarilah itu dan kamu akan menemukan kekuatan"


          kita tidak bisa mengendalikan ombak dilautan karena itu diluar kuasa kita, tapi kita bisa menentukan pilihan untuk tetap mempertahankan kapal sesuai arah yang kita kehendaki.

          kita tidak bisa memilih situasi apa yang kita inginkan akan tetapi kita bisa memilih respon apa yang akan kita ambil terhadap situasi itu, makanya pada R(respon) kak thery mematok nilai tak terbatas, karena kita memiliki kuasa penuh dalam melakukan sebuah respon, dan memberi batasan artinya mempersempit ruang gerak kita dalam merespon, karena sebenarnya kita masih bisa melakukan yang terbaik dan hanya kerena batasan yang kita tetapkan kita jadi tidak bisa memaksimalkan respon kita terhadap suatu situasi untuk memperoleh outcam (hasil) yang Positif.


          kesimpulannya ialah rumus E+R=O adalah rumus yang cocok di gunakan dalam suatu pekerjaan maupun dalam menjalani sebuah roda kehidupan, secara sederhana jika kita kurang puas dengan hasil yang kita dapatkan saat bekerja atau menjalani kehidupan, cobalah untuk  merubah R (Respon) anda terhadap E (Situasi) hingga kita mendapatkan  O (hasil) yang selama ini kita cari dan inginkan.

-Terima Kasih-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Self Boundaries : Perlunya Memilki batasan

  Self Boundaries : Perlunya Memilki batasan               Di dalam hidup ini mungkin banyak dari kalian yang sering merasa sering di ma...